Quality Time Bersama Keluarga

Bismillah,

Yak, akhirnya alhamdulillah saya bisa kenagkut di kelas yang dinanti-nantikan, setelah sebelumnya tidak keangkut karena kesalahan teknis yang bikin nyesek banget. Apapun itu, saya mencoba untuk legowo, insyaAllah semua yang terjadi adalah yang terbaik.

Oke, next.

Meski bukan orang kantoran, saya dan suami punya kesibukan masing-masing di rumah, dan bisa dibilang ada jam kerja masing-masing. Karena kami juga ngurus pesantren, jadi otomatis sebagian besar waktu kami kesedot untuk urusan-urusan tersebut, alhamdulillah. Bisa dibilang, kami agak kesulitan mencari waktu outing untuk memenuhi hak anak-anak. Untuk itulah, kami harus memutar otak.

Setelah membaca tantangan pertama, saya mulai mempraktekkan sedikit-sedikit, terutama ke sulung saya (3,5 tahun), karena memang sejak adeknya lahir, bisa dibilang banyak hak-nya yang tidak bisa kami (saya) penuhi. Alhamdulillah, dengan senjata pertama dan utama, yaitu tazkiyatun nafs (karena sesungguhnya kita bukanlah apa-apa tanpa Allah), alhamdulillah saya mulai memperbaiki kekurangan saya dalam hal membangun komunikasi produktif dengan anak, dan alhamdulillah memang menyenangkan, tanpa perlu mengeluarkan banyak energi (terutama yang negatif). Semoga bisa istiqomah, aamiin.

* * *

Pagi hari setelah sholat shubuh, setelah agenda rutin, saya meminta sedikit waktu suami untuk ngobrol, kali ini saya akui beda, karena ada tatapan mata (ciee..), biasanya ngobrol mah ngobrol biasa, ga pake tatapan mata (karena saya suka ga kuat dengan pandangan suami, langsung klepek-klepek, wkwkwk). Intinya, kami membahas tentang sesuatu yang mungkin kecil tapi sangat berarti. Yak, quality time untuk anak-anak, terutama si sulung Farid.

Dulu kami memang pernah menyusun agenda tersebut, tetapi dalam pelaksanaannya ternyata kami belum bisa istiqomah (karena mungkin masih terlalu sulit untuk kami realisasikan). Akhirnya kami putuskan untuk membuat aktivitas ringan tiap pagi.

Dan hari pertama tantangan ini, kami mengajak Farid mengganti lampu depan yang memang sudah rusak.

A : “Farid, pasang lampu yuk”

F : “Lampu dimana Ayah? Di depan itu? Yang mati itu ya?”

A : “Iya, yuk, ambil lampunya. Ayah ambil tangga dulu ya”

Setelah semuanya siap,

F : “Ayah, Farid yang pasang”

A : “Belum bisa Nak, ini terlalu tinggi. Farid bawa lampu aja ya” Farid pun manut, alhamdulillah.

Bla bla bla, alhamdulillah lampu pun terpasang.

B : “Farid, coba nyalain lampunya, nyala ga?” Farid pun bergegas nyalain.

Urusan lampu selesai, kami lanjutkan dengan memanen rambutan depan rumah yang alhamdulillah luyaman. Farid kami ajak metik rambutan dengan alat, kemudian memasukkannya ke dalam kantong kresek. Tak lupa kami makan rambutan bersama di depan rumah.

B : “Farid, kok rambutannya dibuang, kenapa?”

F : “Mana?”

B : “Itu.”

A : “Farid maem rambutannya diemut kayak permen ya?”

F : “Iya, hehe..”

A : “Harusnya disesepin dulu”

B : “Iya Farid, kan kasian rambutannya, nanti mubazir loh, jadi temennya setan. Setan kan jahat”

F : “Gitu ya? Nanti rambutannya Farid maem kok, kan biar sehat. Soalnya Farid ga mau jadi temennya setan”

Tiap kali denger Farid ngomong gitu, rasanya nyesss, masyaAllah.. Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tathimushshaalihaat.

#Day1
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Leave a Comment

%d bloggers like this: