Tanggung Jawab Pada Anak (1)

Yak, baru masuk hari kedua, dan telat  posting. (Tanpa ngeles aja lah ya, hehe..)

Dari kecil, saya berusaha untuk membiasakan anak untuk bertanggung jawab, tentunya disesuaikan dengan usianya. Tapi.. tak jarang (apa malah sering ya), yang terjadi adalah pemaksaan kehendak saya untuk anak. Astaghfirullah..

Di sinilah salahnya saya. Sebenernya bukan tidak tau, tapi mungkin karena nafsu, juga stok sabarnya masih minim pake banget, al hasil, keluarlah yang negatif-negatif ini. Ujung-ujungnya, kalo udah lewat nyesel ga ketulungan.

Tantangan ini, jujur membuat saya mau tidak mau harus lebih menambah jam terbang tazkiyatun nafs. Ya.. saya berusaha untuk menjadikan Allah yang pertama dan utama. Untuk apa? Banyak lah ya, salah satunya untuk menambah stok sabar. Salah duanya, agar Allah memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya. Salah tiganya, anak insyaAllah jadi lebih mudah di atur. Salah lainnya? Banyaakk insyaAllah. Hehe..

Nah, seperti biasa, tiap hari kehidupan anak itu adalah bermain. Seperti kemarin. Farid mengeluarkan buku-bukunya untuk dijadikan jembatan dan jalan raya kemudian mulai memainkan imajinasinya.

B : “Farid, ini buku lho, masak dijadiin buat jalan sama jembatan?”

F : “Emang kenapa Bunda? Kan Farid suka”

B : “Iya, kan buku itu ilmu, harus kita hormati, ditaruh di atas”

F : “Tapi Farid kan suka”

B : “Farid bisa pake yang lain. Ada kardus tuh”

Farid masih asik main yang lain. Tak apa, yang penting Bunda sounding terus bahwa buku itu sumber ilmu yang harus dihormati.

B : “Farid, bukunya diberesin dulu yuk. Farid boleh main yang lain kalo bukunya udah beres”

F : “Nanti Bunda. Farid masih mau main”

B : “Iya, tapi Bunda punya syarat, Farid boleh main yang lain kalo bukunya diberesin dulu. Kalo ga diberesin dulu, berarti Farid belum boleh main dulu”

F : “Farid kan capek Bunda”

B : “Bentar doang kok. Bunda bantuin yuk. Farid kan anak shalih, anak baik. Anak shalih itu tanggung jawab”

Awalnya Farid agak berat beresin, tapi lama-lama dia excited. Alhamdulillah. Dan setelah selesai.

B : “Yayy.. Farid hebat, masyaAllah. Farid shalih ya” (sambil tepuk tangan)

F : “Iya, Farid kan shalih Bunda”

* * *

Nah, balik lagi ke diri saya. Satu keberhasilan belum tentu berhasil di hari berikutnya, karena jujur, istiqomah itu tidak mudah.

“Ingatlah, anak itu amanah, dan setiap amanah itu akan dimintai pertanggungjawaban. Anak itu investasi, dan investasi terbesar kita itu adalah anak.”

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada kita para orang tua. Aamiin.

#Day2
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Leave a Comment

%d bloggers like this: