Memeluk Mimpi

Tiada yang lebih berharga dari hidup ini selain hidayahNya yang teramat mahal. Menggadaikan diri di jalan dakwah, serta bertekad untuk menjadi penjaga ayat-ayat langitNya.

Sejenak merenung tentang secuplik perjalanan hidupku untuk menjadi bagian dari penjaga itu. Flashback. Sejak kecil, aku sudah belajar Al Qur’an, tapi mungkin semuanya berjalan secara alami. Orang tuaku tak pernah memaksaku. Entah apa yang mendorongku, yang kutau dan yang kuyakini saat itu, bahwa kitab umat Islam adalah Al Qur’an, dan aku merasa bahwa aku harus mempelajarinya.

Setiap hari, aku rajin ke mushola, sholat berjama’ah kemudian ngaji Al Qur’an di depan ustadz bersama teman-teman. Ketika ada sehari bolong saja, rasanya menyesal luar biasa, tertinggal dari yang lain.

Aku dibesarkan dari keluarga NU, yang aku tau, bahwa ada semacam tradisi yang tidak sreg di hati tentang Al Qur’an ini. Banyak di antara mereka yang mempelajari tajwid, bahkan mengajarkannya kepada orang lain, namun yang sering pula aku jumpai, bacaannya masih banyak yang kacau. Maka, ‘pertempuran’ pun terjadi dalam hatiku.

Di satu sisi, hanya di situlah tempatku belajar, di sisi lain aku merasa butuh tempat yang lebih baik lagi. Akhirnya aku putuskan untuk tetap bertahan dengan terus berusaha memperbaiki kualitas bacaan. Masa SD, SMP, hingga SMA, kemampuan menghafal begitu cepat meski waktu itu aku belum begitu paham esensi sesungguhnya. Tapi aku akui, hafalanku dari SD hingga SMA itu masih melekat hingga sekarang.

Sekitar awal tahun 2009, aku dipertemukan Allah dengan sebuah keluarga yang senantiasa menjaga ayat-ayatNya. Dari sanalah, aku mendapatkan banyak nasehat, petuah, atau apapun itu, hingga akhirnya aku bertekad untuk memperbaiki bacaan dan menghafalkannya kembali dari awal, dengan harapan, kualitas hafalanku semakin baik.

Di tengah-tengah aktifitasku yang bisa dibilang tiada jeda, aku sempatkan belajar Al Qur’an, privat dengan seorang ustadzah. Apresiasi positif dari ustadzah, karena memang perkembanganku luar biasa pesat, begitu katanya. Semua itu membuatku semakin terpacu untuk lebih baik lagi, dan berlanjut ke tahap berikutnya, yaitu tahfidzul Qur’an.

Aku mulai melukisnya dalam sebuah goresan pena di kanvas mimpi-mimpiku, lalu aku menghujamkan dengan amat kuat dalam hati. Aku susun langkah-langkah yang akan aku jalani untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu, tak lupa doa terus kupanjatkan. Berbagai kejutan pun didatangkan oleh Allah. Hampir setiap saat aku dipertemukan dengan orang-orang yang juga senantiasa menjaga ayat-ayatNya. Dan semua itu, membuat keinginanku semakin membuncah.

Bermimpilah, dan Allah akan memeluk mimpi-mimpimu. Paling tidak, itu salah satu hal yang sangat aku yakini. Bermimpi, berikhtiar, dan menyandarkan hanya kepadaNya.

Leave a Comment

%d bloggers like this: